Wednesday, 5 January 2011

Obat dari kegilaan ku


Aku menyadari bahwa jiwa dan raga ini akan kembali pada Sang Ilahi Robbi. Akan tetapi kesadaran ku tidak mampu merubah diriku untuk segera kembali mengingat dan menjalankan perintah dari Sang Pencipta, apakah memang hatiku yang sudah mati atau terlalu kotor sehingga sudah tidak ada pancaran sinar yang menenangkan dan menggugah untuk kearah perubahan yang lebih baik. Ataukah memang nafsu yang sudah menyelimuti bahkan menguasai diri ini sehingga sifat kebaikan yang ada dalam diri ini sudah tidak lagi mau berkompromi untuk bangkit keambali. Sampai kapan aku akan merasakan derita kesakitan seperti ini.

Akhir-akhir ini aku merasakan kegilaan yang begitu hebat, sampai-sampai membuat diriku berjalan tanpa tentu arah. Menuju tujuan yang tiada arah. Ingin rasanya menemukan seseorang yang dapat menjawab setiap permasalahan dan kegilaan yang sedang aku alami. Bahkan kegilaan ini saking begitu hebatnya menjadikan diriku seorang pengecut, penakut dan menjadi orang linglung yang berjalan tanpa tentu arah dan senantiasa menyendiri sepi tanpa arti.

Setiap kali aku berjalan berharap adakah orang yang mampu menolong dan menjawab setiap pertanyaanku sehingga mampu melepaskan jiwa serta fikiran ku dari kegilaan ini. Dan inipun hanya jiwa dan perasaan serta fikiranku yang mengerti. Tiada orang lain yang sanggup mengerti akan kondisiku, jiwaku serta perasaanku. Setiap detik aku mencoba merenung dan merenung tapi belum juga menemukan jawaban yang pasti. Kegilaan yang kurasakan semakin menjadi-jadi. Bahkan semakin membuat diri ini ingin merasakan mati.

Apakah aku akan mengalami masa-masa yang begitu menyengsarakan berjalan-jalan di dunia yang tanpa arah, lalu di ikuti oleh anak-anak kecil yang begitu banyaknya sambil di teriyaki “orang gila-orang gila” akan kah terjadi sampai segitunya. Ataukah ada seseorang yang mampu mengobati kegilaanku ini. Sungguh aku merasakan kegilaan yang begitu hebatnya. Ataukah jiwa ku sendiri yang mampu mengobati kegilaan ini.

Sebenarnya tidak hanya sekali,dua kali aku merasakan seperti ini tapi yang ku rasakan ini berbeda, kegilaan yang sudah di ambang batas kewajaran, sehingga raga serta jiwaku tidak mampu menerima semua itu, sehingga berdampak pada kondisi fisik ku yang semakin melemah dan terus melemah. Aku berharap kondisi seperti ini tidak akan lama ku alami. Biarkan orang berkata apa tentang kondisi ragaku ini, akan tetapi aku hanya dan tetap mengharap ada seseorang yang mampu memberikan penawar akan kegilaan yang ku alami.

Ooo Tuhan hamba merasakan sakit yang begitu mendalam Sehingga menimbulkan kegilaan. Kegilaan yang sudah di ambang batas kewajaran. Kegilaan yang hampir membuat ku mati di telan kerasnya jalanan. Akan tetapi aku walaupun dalam kondisi kegilaan ku. Aku masih tetap mengingat akan kasih sayang-Mu dan kemurahan serta limpahan rohmat serta inayah-Mu. Setelah ku mencoba melawan kegilaan yang terjadi pada diriku. Setelah ku merenung dan mengambil air wudhu. Maka aku teringat pesan ibnu mas’ud seorang sahabat nabi yang mempunyai obat pelipur rasa tenang dan kegilaan. Yang mampu melepaskan ku dari kegilaan dan perasaan yang tidak tenang.

Dan aku pun teringat akan nasehat beliau ” Kalau penyakit itu yang menimpamu, maka bawalah hatimu mengunjungi tiga tempat. Pertama , engkau datangi tempat orang membaca Al-Qur’an, engkau membaca Al-Qur’an, engkau dengarkan baik-baik orang yang membaca Al-Qur’an. Atau kedua , engkau datangi majlis taklim yang mengingatkan hati kepada Allah. Atau ketiga, engkau mencari waktu dan tempat yang sunyi, di situ engkau menyendiri menyembah Allah, seperti pada waktu lewat tengah malam, di saat orang sedang tidur nyenyak, engkau bangun mengerjakan shalat malam, meminta kepada Allah ketenangan jiwa, ketentraman pikiran, dan keikhlasan hati.”

Apa yang beliau tuturkan segera aku laksanakan, segera aku ambil air wudhu kembali, lalu ku gelar sajadah yang sudah lama tersimpan di almari. Aku pun segera menghadapkan diri yang hina dina ini serta berlumuran dosa ini kepada Sang Pencipta ketenangan di hati. Dan di dalam sholatku aku menemukan kembali ketenangan itu, dan aku pun menangis sejadi-jadinya. Hingga tetes air mata ini berlinang membasahi pipi. Sungguh ketenangan yang selama ini belum pernah aku temukan. Tapi sekarang aku merasakan ketenangan yang sungguh luar biasa hebatnya. Ketenangan, kenyamanan, keheningan yang mampu mengobati kegilaan ku ini. Seusai sholat aku bersimpuh di hadapan Allah memohon dan bertanya akan segala derita penyakit yang aku alami. Aku pun merasakan kembali derai air mata ini mengalir membasahi pipi. Hati yang tadinya gersang, fikiran tak tentu arah,serta kegilaan yang melanda kini mulai terobati. Aku bertanya pada Allah “Ya Allah mengapa hidup ku begitu berat seperti ini yang ku alami sehingga aku merasakan kegilaan yang begitu beratnya tak kuat aku menjalani hidup seperti ini” ku luapkan semua apa yang ada di benak hati ini. Seluruh pertanyaan yang bersarang dalam hati aku utarakan kepada Allah. Akupun mulai merasakan ketenangan dalam hati serta mengharap Allah akan menjawab setiap pertanyaan dan uraian perasaan yang ada dalam hati ini. Sehingga aku dapat terlepas dari kegilaan ini.

Seusai sholat aku mengikuti saran dari sahabat nabi Ibnu mas’ud tadi. Yaitu dengan membaca Al Qur’an dengan harapan akan mampu menambah ketenangan dalam hati. Aku pun Mulai mengambil mushaf Al Qur’an lengkap beserta terjemahan yang lagi-lagi tersimpan indah di lemari. Maklum sudah lama aku tak memegang mushaf Qur’an semenjak aku tinggal di perantauan. Aku pun Mulai membuka mushaf Al Quran lalu ku buka lembar-demi lembar, halaman demi halaman. Dan hatiku pun tertuju pada surat Al Ankabut. Aku pu memulai dengan bacaan ummul kitab, lalu mulai ku baca ayat pertama ”alim lam mim” lalu ayat kedua aku tersadar Subhanallah Allah menjawab pertanyaan yang ku hatur kan dalam sholat ku tadi Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?

Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.( QS Al ankabut : 2-3)

Aku pun kembali berlinangan air mata, sungguh linangan air mata yang menentramkan hati. “Ya Allah laailaha illa anta Subhanaka ini kuntu minadzolimin.” Ya Allah Maha Suci Engkau Ya Allah, sungguh hamba mu ini termasuk orang yang berlaku dzolim. Aku pun meneteskan air mata yang begitu hebatnya seakan air mata ini tak mau berhenti dan terus berlinangan. Ya Allah Maha suci Engkau ya Allah. Aku hanyalah seorang hamba yang jauh dari Engkau. Kegilaan ku berawal dan bermula dari kebodohan serta kelemahanku dalam menemukan hakekat akan bersyukur kepada-Mu ya Allah. Ya Allah ampunilah segala dosa-dosaku. Dosa yang begitu besar dan tiada tara. Hamba memohon Engkau lah dzat yang Maha kuasa dan Maha kuasa. Hamba menyadari kegilaan ini karena hamba jauh dari-Mu walaupun menghadap-Mu tapi hanya raga saja yang menghadapmu tapi hati serta fikiran ini tidak menghadapmu. Fikiran dan jiwa ini memikirkan keduniaan, memikirkan permasalahan keduniaan. Sungguh betapa dzolim diri ini. Menghadap Allah dengan sholat tapi tidak mampu menemukan hakekat sholat, hakekat sebenar-benarNya yaitu menghadap Kepada Allah azza wa jalla. Hamba-Mu ini terlalu sibuk dengan urusan dunia. Ya Allah janganlah dunia ini sampai melalaikan hamba sehingga menjauhkan diri dari Engkau. Hamba mohon agar hamba dapat senantiasa bersama dengan Engkau dalam hati yang senantiasa bercahaya dan dekat dengan Engkau. Hamba merasakan cukup untuk keduniaan yang fana ini. Karena dunia ini hanya semu semata (fatamorgana). Cukuplah Engkau yang menjadi penolong serta tempat berlabuh dalam suka dan duka.

Terima kasih ya Allah Engkau telah memberikan obat dan jawaban atas semua pertanyaan dan kegalauan serta kegilaan yang sempat mendera ku. Hamba mohon bimbingan selalu dari Mu ya Allah. Hamba takut kalau hamba kehilangan Engkau. Karena Engkau adalah satu-satunya dzat yang hamba cintai dan sayangi. hamba tidak mengaharap syurga akan tetapi hamba mengaharapkan dapat senantiasa berada di sisi Engkau hingga di kehidupan akherat kelak. Amiin ya Allah.

Dan akhirnya aku pun menyadari akan penyakit dan kegilaan yang selama ini mendera bathin, hati serta jiwa raga ini. Semua obat sudah Allah persiapkan bagi kita. Sesungguhnya hidup kita akan tenang dan damai serta nyaman ketika dalam hidup kita senantiasa memegang teguh panduan kita yaitu Al Qur’an dan sunah. Karena manusia terkadang saking sibuknya mengurusi keduniaan mereka lupa akan pegangan hidup mereka. Bagaimana kita bisa menuju tempat tujuan kita bila kita tidak mau bahkan sama sekali tidak pernah membaca atau mempelajari panduan jalan kita. Yang terjadi adalah kita akan senantiasa tersesatkan oleh urusan keduniaan dan nafsu angkara yang senantiasa menggerogoti jiwa, hati serta iman kita.

Marilah saudaraku seiman dan seperjuangan, di kehidupan akhir zaman ini. Mari senantiasa kita tingkatkan kembali beribadah kepada Allah dan membaca surat cinta dari Allah. Karena pada hakekatnya ketika kita membaca Al Qur’an maka sesungguhnya kita sedang berdialog atau berbicara langsung dengan Allah. Oleh karena itu mari kita tingkatkan membaca Al Qur’an tidak hanya sekedar tulisan arabnya tapi mari kita mulai memaknai akan terjemahannya. Lalu kita amalkan serta jalankan dalam kehidupan sebagai panduan hidup kita di dunia sehingga kita mampu selamat dari Api neraka. Karena sesungguhnya Al Qur’an itu tidak ada keraguan di dalamnya. “ dzalikal kitabu laa roiba fiihii. Hudallil muttaqin”Sesungguhnya kitab ini Al Qur’an tidak ada keraguan di dalam nya. Panduan/petunjuk bagi orang yang bertaqwa( QS Al baqoroh : 2).

Semoga memberikan hikmah dan manfaat bagi kita semua. Amiin Ya Robb.

Di tulis dari kisah seorang sahabat yang merasakan kegalauan akan menghadapi ujian dalam kehidupan.

0 comments:

Post a Comment